New H4ir Styles 2013

This is default featured post 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Showing posts with label reality. Show all posts
Showing posts with label reality. Show all posts

Saturday, December 8, 2012

SATU WARNA



 Kenapa selalu cepat datangnya pagi? 
Padahal malam belum aku rangkul sempurna
Tak aku dapat satupun warna
Di tidur dalam mimpiku yang penuh harap

 Kenapa malam selang berganti siang? 
Padahal aku belum ingin beranjak dari tidurku
Aroma khas kesejukan pagi selalu datang lebih awal
Sebelum aku temukan satupun warna

 Kenapa tak aku temukan dalam setiap mimpiku? 
Tentang warna indah berpadu menjadi Satu
Kenapa semuanya hanya harapan?
Tak aku jumpa satupun warna

 Mungkin belum sekarang, esok atau lusa 
Entah kapan akan aku temukan warna itu
Warna yang hiasi hariku
Yang dulu sempat memudar karena kehilangan warnanya

Coretanku Padamu Kertas




 Padamu kertas aku coretkan 
Kata hati yang penuh arti
Dengan dihiasi sedikit mimpi
Ku yakin nanti kau disini
Menemani hariku ini

Aku coretkan padamu kertas
Dengan tinta hitam berwarna
Hanya untukmu yang disana
Sebuah kata dalam jiwa
Yang sekarang aku rasa

Aku coretkan padamu kertas
Bersama sepi dimalam ini
Jangkrik yang saling bersahutan
Jam dinding yang terus berdetak
Serta bulan yang bersaksi

Aku tuliskan 5 huruf
Sebuah kata singkat penuh arti
Yang aku eja tiap bait saat aku tulis puisi ini
Kata itu adalah
 R.I.N.D.U 

Saturday, October 27, 2012

Pemulung ikut berkurban, pengurus masjid menangis haru


Man jadda wajada. Walau didera kemiskinan dan cuma jadi pemulung Yati bisa berkurban dua kambing.

Pemulung pun ikut berkurban

         Jemaah Salat Idul Adha di Masjid Raya Al Ittihad, Tebet Barat, Jakarta Selatan, berdecak kagum pagi ini. Sebelum salat dimulai, panitia Kurban mengumumkan perolehan sapi dan kambing yang diterima.


Hebatnya, seorang pemulung ikut menyumbangkan hewan kurban berupa kambing di masjid yang megah dan besar tersebut.



"Perlu kami umumkan, kambing yang terbesar justru diberikan oleh seorang yang pekerjaannya pemulung. Beliau biasa berkeliling di sekitar Tebet sini," ujar seorang panitia Kurban melalui pengeras suara, Jumat (26/10).



Ada sekitar 27 sapi dan kambing yang diterima panitia Kurban Masjid Al Ittihad. Pemulung yang namanya tak disebutkan itu menyerahkan kambing beberapa hari lalu.



"Setiap hari, beliau pula yang memberi makan kambing tersebut," kata pembawa acara.



Hampir seluruh jemaah salat terkesima mendengar pengumuman itu. Saat memimpin salat, suara imam pun bergetar seperti menahan tangis. "Hebat. Subhanallah," gumam jemaah.



nabung tiga tahun untuk kurban


          Pasangan pemulung Yati (55) dan Maman (35), mengaku menabung tiga tahun untuk membeli dua ekor kambing kurban. Walau susah payah, mereka ingin memberikan kurban, bukan terus mengantre diberi daging kurban.

"Saya nabung tiga tahun untuk beli dua ekor kambing. Yang besar itu saya beli Rp 2 juta, yang kecil Rp 1 juta," kata Yati saat berbincang dengan merdeka.com di rumahnya, Jumat (26/10).

Yati setiap hari bekerja sebagai pemulung, begitu juga Maman. Kadang untuk menambah penghasilan, Maman ikut menarik sampah di sekitar Tebet.

"Penghasilan sehari tak tentu. Seringnya dapat Rp 25 ribu. Dihemat untuk hidup dan ditabung buat beli dua kambing itu," kisah Yati.

Yati mengaku sudah seumur hidup ingin berkurban. Wanita tua asal Madura itu malu terus mengantre daging kurban. Keinginan ini terus menguat, saat Bulan Ramadan. Yati makin giat menabung.

"Saya ingin sekali saja, seumur hidup memberikan daging kurban. Ada kepuasaan, rasanya tebal sekali di dada. Harapan saya semoga ini bukan yang terakhir," jelasnya.

Yati membeli dua kambing itu di Pancoran. Maman yang mengambil dua kambing itu dengan bajaj dan memberikannya ke panitia kurban di Masjid Al-Ittihad, Tebet, Jakarta Selatan.

Saat Maman menyerahkan dua kambing untuk kurban itu, jamaah masjid megah tersebut meneteskan air mata haru.


sempat diejek waktu mau berkurban

         Yati (55) menabung susah payah untuk berkurban. Wanita yang berprofesi sebagai pemulung ini mengaku sempat ditertawakan saat bercerita seputar niatnya untuk berkurban.

"Pada ketawa, bilang sudah pemulung, sudah tua, nggembel ngapain kurban," cerita Yati kepada merdeka.com, Jumat (26/10).

Tapi Yati bergeming. Dia tetap meneruskan niatnya untuk membeli hewan kurban. Akhirnya setelah menabung tiga tahun, Yati bisa berkurban tahun ini.

"Pada bilang apa tidak sayang, mending uangnya untuk yang lain. Tapi saya pikir sekali seumur hidup masa tidak pernah kurban. Malu cuma nunggu daging kurban," beber Yati.

Yati dan suaminya Maman (35) sama-sama berprofesi sebagai pemulung. Pendapatan mereka jika digabung cuma Rp 25 ribu per hari. tapi akhirnya mereka bisa membeli dua ekor kambing. Masing-masing berharga Rp 1 juta dan Rp 2 juta.

Dua kambing ini disumbangkan ke Masjid Al Ittihad, Tebet, Jakarta Selatan. Jemaah masjid megah itu pun meneteskan air mata haru.

Pengurus masjid menangis

       Pasangan suami istri yang berprofesi sebagai pemulung memberikan dua hewan kurban di Masjid Al Ittihad, Tebet, Jakarta Selatan. Pengurus masjid yang menerima dua ekor kambing itu menangis terharu.

"Saya nangis, tidak kuat menahan haru," ujar Juanda (50), salah satu pengurus Masjid Al Ittihad saat berbincang dengan merdeka.com, Jumat (26/10).

Juanda menceritakan Selasa (23/10), seorang pemulung bernama Maman datang ke Masjid Al Ittihad. Masjid megah ini terletak di kawasan elite Tebet Mas, Jaksel.

"Bawanya pakai bajaj. Dia kasih dua ekor kambing untuk kurban. Dia bicara tegas, justru saya yang menerimanya tak kuat. Saya menangis," kata Juanda.

Juanda lalu mengajak merdeka.com melihat dua kambing itu di halaman masjid. Ada yang berwarna coklat dan putih. Kambing itu justru yang paling besar di antara kambing-kambing lain.

Dia menceritakan pengurus lain pun terharu mendengar cerita ini. Begitu juga jamaah salat Idul Adha yang mendengar pengumuman lewat pengeras suara sebelum salat.

Orang yang sedikit harta dan mengalokasikan sebagiannya untuk kepentingan sosial adalah orang kaya sejati. Orang yang banyak harta dan tidak (sedikit saja) mengalokasikan hartanya untuk orang banyak adalah orang miskin sejati.


Thursday, October 25, 2012

Hati-Hati Naik Metromini 640 (Ps. Minggu - Tanah Abang)


Selamat Pagi Juragan Sekalian,


Ane mau ceritain pengalaman nyata ane yang kejadiannya baru hari Senin pagi kemarin (22 Oktober 2012). Maksud ane cerita ini sekedar sharing supaya tidak terjadi pada juragan sekalian yang suka menaiki Metromini/Kopaja.



Ane tinggal di sekitar Kalibata, kantor tempat ane bekerja ada di Wisma Mulia, Jl. Gatot Subroto. Ane biasanya pagi-pagi naek Metromini 62 (Ps. Minggu -Manggarai) sampai dengan Pancoran karena masih bisa duduk, kemudian disambung antara naik Transjakarta atau naik Metromini 640 (Ps. Minggu - Tanah Abang) yang memutar arah di Pancoran, sehingga ane bisa tetap duduk. Sebetulnya ane bisa aja naik Metromini 640 dari rumah ane, cuma pasti sudah tidak kebagian tempat duduk alias berdiri sepanjang jalan.



Hari kemarin, sekitar pukul 07 pagi ane sudah sampai di Pancoran, ane lihat pas putaran ada Metromini 640 kosong, ane naiklah ke dalam paling isinya baru 5-6 orang, kemudian majulah Metromini 640 tersebut karena kalau kelamaan tuh supir bisa dipentung Polantas. Sampai sekitar Hanggar, penumpang Metromini 640 mulai penuh dan mulai ada yang berdiri. Ane kebiasaan kalau pas duduk di Metromini mainin BB buat nyapa temen2 di pagi hari tanpa ada rasa curiga apapun kalau ada yang mengamati ane.



Sampai melewati lampu merah kuningan ane mulai siap-siap berdiri dan mau turun lewat pintu belakang. Nah pas mau turun itu ada laki-laki berpakaian rapi (sktr 40thn-an) yang menghalangi ane turun. Dilanjut dengan dari belakang ane ada yang narik baju ane sambil bilang "Sebentar ada permen karet Pak". Sambil begitu ada satu orang lagi yang mencoba mengambil BB di kantong baju depan ane dan meraba dompet di saku belakang ane. Untungnya usaha mereka terasa sama ane, refleks spontan ane hardik aja tuh gerombolan orang "JANGAN MACAM-MACAM KAU SAMA AKU! MAU MALING YA KALIAN??" respon mereka jadi agak ngeper, yang ngalangin pintu bergeser, terus yang dibelakang ane yang tadi bilangin ada permen karet di baju ane (yang padahal gak ada), langsung pura-pura ngingetin "Pak waktunya turun". Ane masih kesel dan emosi, ane terusin tuh CACIAN ane ke minimal gerombolan 3 orang tadi sambil turun dan ane tunjuk-tunjuk ancam "JANGAN MACAM-MACAM KALIAN!" Pas Metromini 640 itu berangkat dan ane udah turun, masih ada satu orang yang lihatin ane dengan tajam, ane balas sambil teriak angkat tangan (bogem) "SIALAN KAU!"



Begitulah cerita ane kemarin, ane bisa refleks begitu karena ane pernah mengalami kejadian serupa pada tahun 2009 di Metromini 640 juga. Saat itu ane masih polos dan belum tahu skenario gerombolan copet seperti itu, sehingga ane kehilangan barang berharga ane waktu itu. Meskipun caranya agak sedikit berbeda, tapi dari pengalaman ane tersebut peran gerombolan tersebut bisa dipecah jadi minimal 3 peran:

  1. pertama, orang yang bertugas sebagai pengalih perhatian yang akan mencoba mengalihkan konsentrasi kita.
  2. kedua, orang yang bertugas ngambil barang kita yang diincar.
  3. ketiga, orang yang bertugas mengamankan mereka selama beraksi


Dan perlu dicatat, gerombolan ini biasanya berpakaian rapi, selayaknya orang kantoran.



Mohon jadikan pengalaman ane ini sebagai pelajaran, supaya tidak terjadi ke juragan sekalian dan lebih berhati-hati menjelajahi RIMBA ANGKUTAN UMUM Jakarta.



sumber : kaskus